Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Palembang Baharuddin Ali mengatakan utusan empat negara dipastikan mengikuti Festival Perahu Naga Internasional yang diselenggarakan di Sungai Musi, Palembang, 3-6 Desember 2009.
Keempat negara tersebut adalah Malaysia, Singapura, Thailand dan Hong Kong. Menurut dia, selain empat negara tersebut, festival ini akan diikuti 33 tim perahu naga dari seluruh Indonesia .
"Para peserta perahu naga akan mulai berdatangan ke Kota Palembang, Selasa (1/12) untuk menjajal lokasi pertandingan," jelasnya, Senin (30/11).
Ali mengatakan pihaknya sudah siap untuk menyambut kehadiran peserta dan pengunjung festival tersebut. Begitu juga dengan pelaksanaan kegiatan yang telah diselenggarakan selama dua tahun berturut-turut menjadi agenda tahunan Pemkot Palembang, katanya.
Dia menjelaskan, selain melaksanakan festival perahu naga, kegiatan yang masuk dalam agenda Festival Musi tersebut juga akan diramaikan festival kuliner dan seni budaya nusantara. Ajang tersebut juga akan dimeriahkan oleh pembuatan pempek kapal selam terbesar (salah satu makanan khas Palembang-red) yang ditargetkan masuk dalam museum rekor Indonesia (MURI), ujarnya.
Sebelumnya, Baharuddin mengatakan, sebanyak 12 duta besar dari sejumlah negara, seperti Malaysia, Singapura, Pakistan dan Arab Saudi. "12 duta besar negera sahabat telah mengkonfirmasikan kehadiran mereka pada pembukaan Festival Musi," katanya. - Festival Museum Nusantara
Low Price HP
Jumat, 25 Desember 2009
Kamis, 10 Desember 2009
RS Omni dan Prita Sambut Mediasi Departemen Kesehatan
RS Omni International dan Prita Mulyasari menyambut baik rencana Departemen Kesehatan yang akan membentuk tim untuk mendamaikan kedua belah pihak yang tengah bertikai tersebut.
"Pada prinsipnya kami sangat mendorong ke jalan perdamaian," ujar kuasa hukum RS Omni, Risma Situmorang, kepada Tempo, Sabtu (5/12). Hanya saja, kata Risma, ia belum mendapatkan informasi soal pembentukan tim dari Departemen Kesehatan itu. "Belum dapat informasi, tapi kalau memang ada akan kita sambut baik."
Risma mengatakan sejak awal pihak Omni selalu ingin berdamai dan menyelesaikan masalah ini baik-baik tanpa harus mengikuti proses pengadilan yang membutuhkan waktu yang sangat panjang. "Kami juga kasihan melihat Bu Prita," kata Risma.
Ia mengatakan sebelum perkara perdata diputus Pengadilan Negeri Tangerang sudah dilakukan lima kali mediasi untuk berdamai. Tapi, tidak ada kata sepakat untuk berdamai dari pihak Prita. "Sehingga kasus ini terus bergulir dan Pengadilan Tinggi Banten pun memutuskan Prita untuk membayar ganti rugi Rp 204 juta kepada Omni," ujar Risma.
Rumah Sakit Omni, Risma melanjutkan, membuka pintu maaf untuk Prita Mulyasari untuk menyelesaikan perseteruan antara mereka secara kekeluargaan. "Kami buka waktu 24 jam untuk Prita meminta maaf," katanya.
Omni, kata dia, bisa saja langsung mencabut perkara perdata jika Prita mau menyatakan maaf secara tertulis. "Dari dulu kami sudah membuka maaf untuk Prita," kata Risma. Hanya saja, ia meneruskan, Prita sangat sulit menerima ajakan damai tersebut.
Sementara itu, kuasa hukum Prita, Slamet Yuwono, mengatakan pihaknya juga menyambut rencana damai yang akan dimediasi oleh tim dari Departemen Kesehatan tersebut. "Kebetulan kami sudah menerima informasi itu, dan kami sangat menyambut baik," kata Slamet.
Prita, kata Slamet, selalu menyambut baik jalan damai yang dimediasi oleh pihak manapun sekalipun itu dari RS Omni. Hanya saja, kata dia, pihaknya akan sangat keberatan jika dalam damai itu Prita harus meminta maaf. "Karena Prita tidak bersalah," ujarnya.
Menurutnya, jika memang jalan damai haru ditempuh di luar pengadilan, Prita menginginkan tidak ada yang salah dan benar dalam perkara ini. "Semua duduk bersama, saling melupakan dan tidak ada lagi gugat-menggugat. Intinya saling memahami," kata Slamet.
"Pada prinsipnya kami sangat mendorong ke jalan perdamaian," ujar kuasa hukum RS Omni, Risma Situmorang, kepada Tempo, Sabtu (5/12). Hanya saja, kata Risma, ia belum mendapatkan informasi soal pembentukan tim dari Departemen Kesehatan itu. "Belum dapat informasi, tapi kalau memang ada akan kita sambut baik."
Risma mengatakan sejak awal pihak Omni selalu ingin berdamai dan menyelesaikan masalah ini baik-baik tanpa harus mengikuti proses pengadilan yang membutuhkan waktu yang sangat panjang. "Kami juga kasihan melihat Bu Prita," kata Risma.
Ia mengatakan sebelum perkara perdata diputus Pengadilan Negeri Tangerang sudah dilakukan lima kali mediasi untuk berdamai. Tapi, tidak ada kata sepakat untuk berdamai dari pihak Prita. "Sehingga kasus ini terus bergulir dan Pengadilan Tinggi Banten pun memutuskan Prita untuk membayar ganti rugi Rp 204 juta kepada Omni," ujar Risma.
Rumah Sakit Omni, Risma melanjutkan, membuka pintu maaf untuk Prita Mulyasari untuk menyelesaikan perseteruan antara mereka secara kekeluargaan. "Kami buka waktu 24 jam untuk Prita meminta maaf," katanya.
Omni, kata dia, bisa saja langsung mencabut perkara perdata jika Prita mau menyatakan maaf secara tertulis. "Dari dulu kami sudah membuka maaf untuk Prita," kata Risma. Hanya saja, ia meneruskan, Prita sangat sulit menerima ajakan damai tersebut.
Sementara itu, kuasa hukum Prita, Slamet Yuwono, mengatakan pihaknya juga menyambut rencana damai yang akan dimediasi oleh tim dari Departemen Kesehatan tersebut. "Kebetulan kami sudah menerima informasi itu, dan kami sangat menyambut baik," kata Slamet.
Prita, kata Slamet, selalu menyambut baik jalan damai yang dimediasi oleh pihak manapun sekalipun itu dari RS Omni. Hanya saja, kata dia, pihaknya akan sangat keberatan jika dalam damai itu Prita harus meminta maaf. "Karena Prita tidak bersalah," ujarnya.
Menurutnya, jika memang jalan damai haru ditempuh di luar pengadilan, Prita menginginkan tidak ada yang salah dan benar dalam perkara ini. "Semua duduk bersama, saling melupakan dan tidak ada lagi gugat-menggugat. Intinya saling memahami," kata Slamet.
Jumat, 27 November 2009
Madzab Mbah Surip
Malam ini bukan mau cerita tentang Madzab Mbah Gendeng ataupun seputar bisnis online akan tetapi kekaguman pada sosok alm mbah surip yang dengan kegendengannya yang pas bisa mearmbas bisnis dan menggebrak blantika musik indonesia.
Madzab Mbah Surip
Jika kita cermati secara mendalam, aktualisasi diri dalam perspektif Mbah Surip merupakan kesejatian dari lakuan berkesenian dan berkebudayaan. Sebagaimana Marquis De Sade yang berhasrat menulis cerita-cerita porno, meskipun penjara dan hukuman mati menanti, tidak menyurutkan hasratnya untuk menulis. Banyak seniman-seniman tanah air yang juga beraktualisasi diri dengan menorehkan prestasi (yang tidak hanya diterjemahkan sebagai popularitas semata), sebagaimana madzab berkesenian yang diimani oleh Mbah Surip. Madzab berkesenian dan berkebudayaan yang menomorduakan popularitas memberikan ruang bagi tumbuh, kembang, dan menggeliatnya kreatifitas, sehingga menghasilkan produk kesenian yang berkualitas.
Sosok paruh baya seperti Iwan Fals, Deddy Mizwar, ataupun generasi yang lebih muda seperti Nicholas Saputra, Lukman Sardi, dan lain sebagainya merupakan sosok seniman yang memang menumpahkan segenap potensi yang ada dalam dirinya untuk seni itu sendiri. Seperti halnya Mbah Surip, seniman-seniman yang tidak memburu popularitas tersebut sungguh-sungguh berhasrat menemukan ekstase dalam lakuan berkesenian dan berkebudayaan.
Popularitas hanyalah dianggap sebagai side effect dari kerja yang telah dilakukannya. Terakhir, pengiman madzab Mbah Surip atau yang bisa jadi menyebut dirinya sebagai “Suripers” sesungguhnya adalah individu cerdas yang menganggap prestasi dan kesuksesan tidak dinilai dengan popularitas. Meskipun publik tanah air tidak akan lagi dapat menikmati persenyawaan fisik secara langsung dengan Mbah Surip, namun madzab berkesenian yang ditinggalkannya patut menjadi kajian mendalam yang juga layak untuk diimankan, dalam konteks kehidupan secara menyeluruh maupun dalam konteks berkesenian dan kebudayaan.
Kematiannya yang diduga karena kelelahan akibat padatnya kegiatan memberikan peringatan bahwa ketika hidup (dan atau berkesenian) hanya untuk memburu popularitas maka konsekuensinya adalah tersitanya waktu, tenaga, perhatian, maupun kemampuan. Dari sisi vitalitas karya seni, ketersitaan ini dapat membunuh kualitas karya seni. Dari sisi vitalitas tubuh, ketersitaan ini dapat membunuh. Selamat Jalan Mbah Surip. Memang, bukan popularitas yang manusia gendong ketika menghadap-Nya. (*)
Madzab Mbah Surip
Jika kita cermati secara mendalam, aktualisasi diri dalam perspektif Mbah Surip merupakan kesejatian dari lakuan berkesenian dan berkebudayaan. Sebagaimana Marquis De Sade yang berhasrat menulis cerita-cerita porno, meskipun penjara dan hukuman mati menanti, tidak menyurutkan hasratnya untuk menulis. Banyak seniman-seniman tanah air yang juga beraktualisasi diri dengan menorehkan prestasi (yang tidak hanya diterjemahkan sebagai popularitas semata), sebagaimana madzab berkesenian yang diimani oleh Mbah Surip. Madzab berkesenian dan berkebudayaan yang menomorduakan popularitas memberikan ruang bagi tumbuh, kembang, dan menggeliatnya kreatifitas, sehingga menghasilkan produk kesenian yang berkualitas.
Sosok paruh baya seperti Iwan Fals, Deddy Mizwar, ataupun generasi yang lebih muda seperti Nicholas Saputra, Lukman Sardi, dan lain sebagainya merupakan sosok seniman yang memang menumpahkan segenap potensi yang ada dalam dirinya untuk seni itu sendiri. Seperti halnya Mbah Surip, seniman-seniman yang tidak memburu popularitas tersebut sungguh-sungguh berhasrat menemukan ekstase dalam lakuan berkesenian dan berkebudayaan.
Popularitas hanyalah dianggap sebagai side effect dari kerja yang telah dilakukannya. Terakhir, pengiman madzab Mbah Surip atau yang bisa jadi menyebut dirinya sebagai “Suripers” sesungguhnya adalah individu cerdas yang menganggap prestasi dan kesuksesan tidak dinilai dengan popularitas. Meskipun publik tanah air tidak akan lagi dapat menikmati persenyawaan fisik secara langsung dengan Mbah Surip, namun madzab berkesenian yang ditinggalkannya patut menjadi kajian mendalam yang juga layak untuk diimankan, dalam konteks kehidupan secara menyeluruh maupun dalam konteks berkesenian dan kebudayaan.
Kematiannya yang diduga karena kelelahan akibat padatnya kegiatan memberikan peringatan bahwa ketika hidup (dan atau berkesenian) hanya untuk memburu popularitas maka konsekuensinya adalah tersitanya waktu, tenaga, perhatian, maupun kemampuan. Dari sisi vitalitas karya seni, ketersitaan ini dapat membunuh kualitas karya seni. Dari sisi vitalitas tubuh, ketersitaan ini dapat membunuh. Selamat Jalan Mbah Surip. Memang, bukan popularitas yang manusia gendong ketika menghadap-Nya. (*)
Selasa, 17 November 2009
2012 Puncaki 'Box Office'
Benahkah Ramalan Kiamat 2012 akan terjadi ? Dengan antrian pembelian tiket yang masih panjang bahkan hingga hari ini termasuk di Jakarta, wajar jika film 2012 epik terbaru tentang bencana dunia, 2012, langsung menduduki tangga teratas box office film-film dunia. Sebagaimana dilaporkan LA Times, Senin (16/11), sejak dirilis tepat memasuki weekend kemarin, film ini sudah meraih pemasukan tayangan sebesar USD 65 juta di AS dan Kanada saja, serta 'angka fantastis' USD 160 juta di berbagai belahan dunia lainnya.
Artinya, total USD 225 juta sudah diraup oleh film ini dalam beberapa hari saja. Sebuah prestasi cukup luar biasa bagi karya terbaru Roland Emmerich, sutradara spesialis film-film bencana tersebut, serta hasil yang menggembirakan tentunya bagi Sony Pictures selaku distributornya. "Sebuah pencapaian luar biasa yang bahkan mungkin tak terprediksikan sebelumnya oleh bangsa Maya (kaum Indian di Amerika Selatan yang jadi landasan cerita film itu, Red)," tulis editor LA Times.
Pencapaian 2012 itu sebenarnya cukup bersaing ketat dengan gapaian film baru lainnya, yakni Christmas Carol keluaran Disney, yang sementara duduk di posisi kedua. Seperti sudah banyak diketahui, 2012 yang berdurasi 162 menit ini sendiri, merupakan sebuah film yang dibuat berdasarkan ramalan suku Maya bahwa dunia akan berakhir (kiamat) pada tanggal 21 Desember 2012 mendatang.
Dengan hasil sedemikian rupa, kontan biaya produksi film ini sudah tertutupi hanya dalam beberapa hari dan pihak Sony tinggal menunggu bertambahnya pemasukan mereka. Disebutkan, 2012 sendiri dibuat dengan biaya produksi sekitar USD 200 juta, plus sekitar USD 10 juta biaya pemasaran. Namun, hasil ini bukannya sama sekali tak diperkirakan. Setidaknya di AS saja, beberapa pengamat sebelumnya juga sudah memprediksi bahwa hasil awal 2012 secara domestik memang bisa di atas USD 50 juta.
Capaian film ini jelas masih bakal terus meningkat, karena di beberapa pasar internasional besar seperti Jepang misalnya, dalam beberapa hari ini 2012 tercatat baru saja atau masih akan dirilis perdana. "Ini akan menjadi sebuah sukses teramat besar bagi studio kami," ungkap Rory Bruer, Presiden Distribusi Sony Pictures.
Sementara itu bagi sang sutradara sendiri, Emmerich, sukses ini merupakan yang terbesar kedua baginya dalam hal pemasukan pekan pertama di dalam negeri. Film The Day After Tomorrow (TDAT) karyanya tahun 2004 lalu, tercatat bahkan meraih hampir USD 70 juta di AS saja dalam pekan pertamanya. Namun perlu dicatat, bahwa TDAT saat itu dirilis pada akhir pekan yang kebetulan sedang libur tiga hari - berbeda dengan 2012 yang rilis di weekend normal dengan libur Sabtu-Minggu.
Artinya, total USD 225 juta sudah diraup oleh film ini dalam beberapa hari saja. Sebuah prestasi cukup luar biasa bagi karya terbaru Roland Emmerich, sutradara spesialis film-film bencana tersebut, serta hasil yang menggembirakan tentunya bagi Sony Pictures selaku distributornya. "Sebuah pencapaian luar biasa yang bahkan mungkin tak terprediksikan sebelumnya oleh bangsa Maya (kaum Indian di Amerika Selatan yang jadi landasan cerita film itu, Red)," tulis editor LA Times.
Pencapaian 2012 itu sebenarnya cukup bersaing ketat dengan gapaian film baru lainnya, yakni Christmas Carol keluaran Disney, yang sementara duduk di posisi kedua. Seperti sudah banyak diketahui, 2012 yang berdurasi 162 menit ini sendiri, merupakan sebuah film yang dibuat berdasarkan ramalan suku Maya bahwa dunia akan berakhir (kiamat) pada tanggal 21 Desember 2012 mendatang.
Dengan hasil sedemikian rupa, kontan biaya produksi film ini sudah tertutupi hanya dalam beberapa hari dan pihak Sony tinggal menunggu bertambahnya pemasukan mereka. Disebutkan, 2012 sendiri dibuat dengan biaya produksi sekitar USD 200 juta, plus sekitar USD 10 juta biaya pemasaran. Namun, hasil ini bukannya sama sekali tak diperkirakan. Setidaknya di AS saja, beberapa pengamat sebelumnya juga sudah memprediksi bahwa hasil awal 2012 secara domestik memang bisa di atas USD 50 juta.
Capaian film ini jelas masih bakal terus meningkat, karena di beberapa pasar internasional besar seperti Jepang misalnya, dalam beberapa hari ini 2012 tercatat baru saja atau masih akan dirilis perdana. "Ini akan menjadi sebuah sukses teramat besar bagi studio kami," ungkap Rory Bruer, Presiden Distribusi Sony Pictures.
Sementara itu bagi sang sutradara sendiri, Emmerich, sukses ini merupakan yang terbesar kedua baginya dalam hal pemasukan pekan pertama di dalam negeri. Film The Day After Tomorrow (TDAT) karyanya tahun 2004 lalu, tercatat bahkan meraih hampir USD 70 juta di AS saja dalam pekan pertamanya. Namun perlu dicatat, bahwa TDAT saat itu dirilis pada akhir pekan yang kebetulan sedang libur tiga hari - berbeda dengan 2012 yang rilis di weekend normal dengan libur Sabtu-Minggu.
Langganan:
Postingan (Atom)