Toko Batik - Peta kuliner Solo berubah lagi. Seperti telah saya duga sejak beberapa tahun yang silam, pelan-pelan tetapi pasti, Solo sedang menyejajarkan dirinya dengan Yogyakarta sebagai tujuan wisata - khususnya wisata kuliner. Perubahan dan pembaruan yang dilakukan Walikota Joko Widodo telah menjadi pemicu yang efektif bagi dinamika peta kuliner Solo.
Memang, ada beberapa yang mati – seperti Kafe Solo dan Hughess di Jalan Dr. Rajiman. Tetapi, yang tumbuh baru jauh lebih banyak daripada yang hilang.
Toko Batik Online - Saya awali laporan ini dengan kunjungan ke Soga, sebuah fine-dining restaurant yang berada di samping belakang Museum Batik Danarhadi (juga merangkap toko batik dan demo produksi batik) di Jalan Slamet Riyadi.
Restoran ini merupakan bangunan samping dari Dalem Wuryaningratan – sebuah rumah pangeran yang dibeli oleh pemilik Danarhadi, dan dipugar secara elok. Dalem Wuryaningratan sendiri merupakan showcase yang perlu dikunjungi, dan sering dipakai untuk perhelatan pribadi. Bulan Desember yang lalu, Santosa Dullah – pemilik Danarhadi, yang juga bergelar Kanjeng Pangeran – mengundang 400 temannya ke Dalem Wuryaningratan untuk merayakan ulang tahunnya.
Soga ditata dengan arsitektur interior yang cantik dan berselera tinggi. Renate, manajernya yang cantik dan anggun, membuat para tamu semakin betah berlama-lama menikmati kemewahan restoran itu. Selain sajian internasional, Soga juga menyuguhkan masakan Jawa. Yang sempat saya cicipi adalah gado-gado sebagai appetizer, dan rawon bakar sebagai main course.
Gado-gadonya ditampilkan dengan cantik. Tauge, kacang panjang, dan irisan wortel dibungkus dalam gulungan kol, sehingga penampilannya mirip lumpia atau popiah. Setelah dipotong diagonal, disiram sambal kacang yang legit. Penampilan maupun citarasanya perlu diacungi jempol.
Rawon bakarnya juga unik. Ini tampaknya terinspirasi oleh sop buntut goreng dan sop buntut bakar yang kini sedang naik daun. Daging rawon irisan besar diangkat dari kuahnya, lalu di-grill sebentar. Garing di luar, mak nyuss di dalam karena empuk dan resapan bumbunya yang mantap. Kuah rawonnya pun patut dipuji.
Ternyata, hanya beberapa bulan sebelum Soga hadir, sebuah fine-dining restaurant lain sudah terlebih dulu meramaikan cakrawala kuliner Solo. Namanya Goela Kelapa, berlokasi di dekat Stadion
Low Price HP
Sabtu, 16 Januari 2010
Sabtu, 02 Januari 2010
Inspirasi dari Kemewahan Romawi
Toko Batik Online - Batik benar-benar menjadi supermegah di tangan Heidi Wong. Perancang muda Surabaya itu kemarin (13/12) meluncurkan rancangan-rancangan terbarunya dalam perayaan year end Jayanata. Cewek 18 tahun itu menampilkan enam rancangan bertema Batik in Rome, simbol kemegahan busana zaman Kerajaan Romawi dulu.
Toko Batik - Rancangan Heidi kali ini didominasi oleh aksen kerut. Misalnya, busana yang dikenakan Bunga Pratama. Little black dress yang biasanya memunculkan keanggunan dalam kesederhanaan berubah jadi mewah dengan aksen garis-garis acak dari batik hijau yang dikerut. "Garis batiknya terinspirasi baju gladiator yang ada lilitannya gitu," papar Heidi.
Enam busana terbaru kemarin merupakan koleksi kelima Heidi yang menggunakan tema batik dalam tahun ini. Sebelumnya, cewek yang hobi berselancar itu merilis Batik in Kyoto, Batik in Shanghai, Batik in Myeong Dong, dan Batik in Cottonland. Sebagian di antaranya juga diperagakan di Jayanata. Termasuk koleksi khususnya bertema Batik is Crossing The Culture.
Sebagai pelengkap tampilan busana-busana tersebut, tim make up dari Jayanata merias para model dengan dandanan bertema Exotic Sparkling. "Batik kan kesannya eksotis. Makanya, kami menggunakan warna seperti cokelat tua, oranye, dan emas," kata Fally Sipasulta dari Jayanata.
Toko Batik - Rancangan Heidi kali ini didominasi oleh aksen kerut. Misalnya, busana yang dikenakan Bunga Pratama. Little black dress yang biasanya memunculkan keanggunan dalam kesederhanaan berubah jadi mewah dengan aksen garis-garis acak dari batik hijau yang dikerut. "Garis batiknya terinspirasi baju gladiator yang ada lilitannya gitu," papar Heidi.
Enam busana terbaru kemarin merupakan koleksi kelima Heidi yang menggunakan tema batik dalam tahun ini. Sebelumnya, cewek yang hobi berselancar itu merilis Batik in Kyoto, Batik in Shanghai, Batik in Myeong Dong, dan Batik in Cottonland. Sebagian di antaranya juga diperagakan di Jayanata. Termasuk koleksi khususnya bertema Batik is Crossing The Culture.
Sebagai pelengkap tampilan busana-busana tersebut, tim make up dari Jayanata merias para model dengan dandanan bertema Exotic Sparkling. "Batik kan kesannya eksotis. Makanya, kami menggunakan warna seperti cokelat tua, oranye, dan emas," kata Fally Sipasulta dari Jayanata.
Jumat, 25 Desember 2009
Empat Negara Asing Ramaikan Festival Perahu Naga
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Palembang Baharuddin Ali mengatakan utusan empat negara dipastikan mengikuti Festival Perahu Naga Internasional yang diselenggarakan di Sungai Musi, Palembang, 3-6 Desember 2009.
Keempat negara tersebut adalah Malaysia, Singapura, Thailand dan Hong Kong. Menurut dia, selain empat negara tersebut, festival ini akan diikuti 33 tim perahu naga dari seluruh Indonesia .
"Para peserta perahu naga akan mulai berdatangan ke Kota Palembang, Selasa (1/12) untuk menjajal lokasi pertandingan," jelasnya, Senin (30/11).
Ali mengatakan pihaknya sudah siap untuk menyambut kehadiran peserta dan pengunjung festival tersebut. Begitu juga dengan pelaksanaan kegiatan yang telah diselenggarakan selama dua tahun berturut-turut menjadi agenda tahunan Pemkot Palembang, katanya.
Dia menjelaskan, selain melaksanakan festival perahu naga, kegiatan yang masuk dalam agenda Festival Musi tersebut juga akan diramaikan festival kuliner dan seni budaya nusantara. Ajang tersebut juga akan dimeriahkan oleh pembuatan pempek kapal selam terbesar (salah satu makanan khas Palembang-red) yang ditargetkan masuk dalam museum rekor Indonesia (MURI), ujarnya.
Sebelumnya, Baharuddin mengatakan, sebanyak 12 duta besar dari sejumlah negara, seperti Malaysia, Singapura, Pakistan dan Arab Saudi. "12 duta besar negera sahabat telah mengkonfirmasikan kehadiran mereka pada pembukaan Festival Musi," katanya. - Festival Museum Nusantara
Keempat negara tersebut adalah Malaysia, Singapura, Thailand dan Hong Kong. Menurut dia, selain empat negara tersebut, festival ini akan diikuti 33 tim perahu naga dari seluruh Indonesia .
"Para peserta perahu naga akan mulai berdatangan ke Kota Palembang, Selasa (1/12) untuk menjajal lokasi pertandingan," jelasnya, Senin (30/11).
Ali mengatakan pihaknya sudah siap untuk menyambut kehadiran peserta dan pengunjung festival tersebut. Begitu juga dengan pelaksanaan kegiatan yang telah diselenggarakan selama dua tahun berturut-turut menjadi agenda tahunan Pemkot Palembang, katanya.
Dia menjelaskan, selain melaksanakan festival perahu naga, kegiatan yang masuk dalam agenda Festival Musi tersebut juga akan diramaikan festival kuliner dan seni budaya nusantara. Ajang tersebut juga akan dimeriahkan oleh pembuatan pempek kapal selam terbesar (salah satu makanan khas Palembang-red) yang ditargetkan masuk dalam museum rekor Indonesia (MURI), ujarnya.
Sebelumnya, Baharuddin mengatakan, sebanyak 12 duta besar dari sejumlah negara, seperti Malaysia, Singapura, Pakistan dan Arab Saudi. "12 duta besar negera sahabat telah mengkonfirmasikan kehadiran mereka pada pembukaan Festival Musi," katanya. - Festival Museum Nusantara
Kamis, 10 Desember 2009
RS Omni dan Prita Sambut Mediasi Departemen Kesehatan
RS Omni International dan Prita Mulyasari menyambut baik rencana Departemen Kesehatan yang akan membentuk tim untuk mendamaikan kedua belah pihak yang tengah bertikai tersebut.
"Pada prinsipnya kami sangat mendorong ke jalan perdamaian," ujar kuasa hukum RS Omni, Risma Situmorang, kepada Tempo, Sabtu (5/12). Hanya saja, kata Risma, ia belum mendapatkan informasi soal pembentukan tim dari Departemen Kesehatan itu. "Belum dapat informasi, tapi kalau memang ada akan kita sambut baik."
Risma mengatakan sejak awal pihak Omni selalu ingin berdamai dan menyelesaikan masalah ini baik-baik tanpa harus mengikuti proses pengadilan yang membutuhkan waktu yang sangat panjang. "Kami juga kasihan melihat Bu Prita," kata Risma.
Ia mengatakan sebelum perkara perdata diputus Pengadilan Negeri Tangerang sudah dilakukan lima kali mediasi untuk berdamai. Tapi, tidak ada kata sepakat untuk berdamai dari pihak Prita. "Sehingga kasus ini terus bergulir dan Pengadilan Tinggi Banten pun memutuskan Prita untuk membayar ganti rugi Rp 204 juta kepada Omni," ujar Risma.
Rumah Sakit Omni, Risma melanjutkan, membuka pintu maaf untuk Prita Mulyasari untuk menyelesaikan perseteruan antara mereka secara kekeluargaan. "Kami buka waktu 24 jam untuk Prita meminta maaf," katanya.
Omni, kata dia, bisa saja langsung mencabut perkara perdata jika Prita mau menyatakan maaf secara tertulis. "Dari dulu kami sudah membuka maaf untuk Prita," kata Risma. Hanya saja, ia meneruskan, Prita sangat sulit menerima ajakan damai tersebut.
Sementara itu, kuasa hukum Prita, Slamet Yuwono, mengatakan pihaknya juga menyambut rencana damai yang akan dimediasi oleh tim dari Departemen Kesehatan tersebut. "Kebetulan kami sudah menerima informasi itu, dan kami sangat menyambut baik," kata Slamet.
Prita, kata Slamet, selalu menyambut baik jalan damai yang dimediasi oleh pihak manapun sekalipun itu dari RS Omni. Hanya saja, kata dia, pihaknya akan sangat keberatan jika dalam damai itu Prita harus meminta maaf. "Karena Prita tidak bersalah," ujarnya.
Menurutnya, jika memang jalan damai haru ditempuh di luar pengadilan, Prita menginginkan tidak ada yang salah dan benar dalam perkara ini. "Semua duduk bersama, saling melupakan dan tidak ada lagi gugat-menggugat. Intinya saling memahami," kata Slamet.
"Pada prinsipnya kami sangat mendorong ke jalan perdamaian," ujar kuasa hukum RS Omni, Risma Situmorang, kepada Tempo, Sabtu (5/12). Hanya saja, kata Risma, ia belum mendapatkan informasi soal pembentukan tim dari Departemen Kesehatan itu. "Belum dapat informasi, tapi kalau memang ada akan kita sambut baik."
Risma mengatakan sejak awal pihak Omni selalu ingin berdamai dan menyelesaikan masalah ini baik-baik tanpa harus mengikuti proses pengadilan yang membutuhkan waktu yang sangat panjang. "Kami juga kasihan melihat Bu Prita," kata Risma.
Ia mengatakan sebelum perkara perdata diputus Pengadilan Negeri Tangerang sudah dilakukan lima kali mediasi untuk berdamai. Tapi, tidak ada kata sepakat untuk berdamai dari pihak Prita. "Sehingga kasus ini terus bergulir dan Pengadilan Tinggi Banten pun memutuskan Prita untuk membayar ganti rugi Rp 204 juta kepada Omni," ujar Risma.
Rumah Sakit Omni, Risma melanjutkan, membuka pintu maaf untuk Prita Mulyasari untuk menyelesaikan perseteruan antara mereka secara kekeluargaan. "Kami buka waktu 24 jam untuk Prita meminta maaf," katanya.
Omni, kata dia, bisa saja langsung mencabut perkara perdata jika Prita mau menyatakan maaf secara tertulis. "Dari dulu kami sudah membuka maaf untuk Prita," kata Risma. Hanya saja, ia meneruskan, Prita sangat sulit menerima ajakan damai tersebut.
Sementara itu, kuasa hukum Prita, Slamet Yuwono, mengatakan pihaknya juga menyambut rencana damai yang akan dimediasi oleh tim dari Departemen Kesehatan tersebut. "Kebetulan kami sudah menerima informasi itu, dan kami sangat menyambut baik," kata Slamet.
Prita, kata Slamet, selalu menyambut baik jalan damai yang dimediasi oleh pihak manapun sekalipun itu dari RS Omni. Hanya saja, kata dia, pihaknya akan sangat keberatan jika dalam damai itu Prita harus meminta maaf. "Karena Prita tidak bersalah," ujarnya.
Menurutnya, jika memang jalan damai haru ditempuh di luar pengadilan, Prita menginginkan tidak ada yang salah dan benar dalam perkara ini. "Semua duduk bersama, saling melupakan dan tidak ada lagi gugat-menggugat. Intinya saling memahami," kata Slamet.
Langganan:
Postingan (Atom)